
Aku Hidup Untuk Semua Orang, Kecuali Diriku
Ada orang-orang yang tumbuh dengan rumah sebagai tempat pertama mereka mengenal cinta. Aku tumbuh dengan rumah sebagai tempat pertama aku mengenal ketakutan. Sejak kecil, aku terbiasa melihat hal-hal yang seharusnya tidak pernah dilihat seorang anak. Kekerasan, pertengkaran, kehilangan rasa aman, dan penolakan membuatku tumbuh dengan satu keyakinan yang terus kubawa sampai dewasa: mungkin aku memang tidak cukup berharga untuk dicintai. Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu keputusan ke keputusan lain yang hampir selalu dibuat orang lain atas namaku. Aku belajar diam. Belajar mengalah. Belajar memahami keadaan semua orang, bahkan ketika tidak ada yang berusaha memahami diriku. Sampai ketika dewasa, pola yang sama kembali terulang. Aku menjalani sebuah pernikahan yang bahkan tidak benar-benar kupilih. Dua puluh enam hari kemudian, pernikahan itu berakhir, meninggalkan luka baru di atas luka-luka lama yang belum sempat sembuh. Setelahnya, aku kembali dihadapkan pada berbagai keputusan tentang hidupku, hubungan, pekerjaan, dan masa depanku sendiri. Namun hidup ternyata masih menyisakan satu kesempatan. Kesempatan untuk bertemu seseorang yang tidak mengambil keputusan untukku, tetapi berjalan bersamaku. Seseorang yang perlahan membuatku mengenal arti rasa aman. Hingga akhirnya aku menikah kembali, membangun rumah sederhana, menjadi seorang ibu, dan mulai memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang ia hanya berupa rumah yang tenang, percakapan sederhana, seseorang yang menghargai pilihanmu, atau pelukan seorang anak yang membuatmu merasa bahwa hidup masih layak diperjuangkan. Ini bukan kisah tentang seseorang yang tidak pernah terluka. Ini adalah kisah tentang seseorang yang terluka berkali-kali, tetapi perlahan belajar bahwa masa lalu tidak harus menjadi penentu seluruh hidupnya. Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang selama ini kucari jawabannya bukan lagi: “Apakah aku masih berhak untuk bahagia?” Melainkan: “Beranikah aku memilih kebahagiaanku sendiri?”